Prinsip Pengembangan AUD
Nama :
Niken Ayu Saptiwi
NPM :
17.1.01.0018
Fak/Prodi : FKIP / PG-PAUD
Mata Kuliah : Pengelolaan Pengembangan AUD
Tingkat/Semester : 3 / 5
Prinsip-prinsip
Perkembangan Anak
Tulisan
berikut ini akan mencoba menjelaskan prinsip-prinsip penting dalam perkembangan
anak.
1.
Dimensi-dimensi perkembangan anak—fisik, sosial,
emosi, kognitif, dan spiritual—berhubungan erat satu sama lain. Perubahan dalam
satu dimensi mempengaruhi dan dipengaruhi oleh dimensi lain. Perkembangan dalam
satu dimensi dapat membatasi atau memfasilitasi perkembangan pada
dimensi-dimensi lainnya (Sroufe, Cooper, & DeHart 1992; Kostelnik,
Soderman, & Whiren 1993).
Sebagai contoh, ketika para bayi mulai
belajar berjalan, kemampuan mereka untuk menjelajahi lingkungan menjadi meluas
dan pergerakan mereka ini, pada gilirannya, mempengaruhi perkembangan kognitif
mereka. Demikian juga perkembangan dalam keterampilan berbahasa mempengaruhi
kemampuan anak-anak untuk membangun hubungan-hubungan sosial dengan orang
dewasa dan anak-anak yang lain, dan pada gilirannya keterampilan-keterampilan
dalam interaksi sosial ini dapat mendukung atau menghambat perkembangan bahasa
mereka.
2. Perkembangan anak berlangsung dalam sebuah tahapan
yang relatif teratur di mana kemampuan-kemampuan, keterampilan-keterampilan,
dan pengetahuan-pengetahuan lanjut anak terbangun atas kemampuan-kemampuan,
keterampilan-keterampilan, dan pengetahuan-pengetahuan anak sebelumnya.
Riset-riset perkembangan manusia menunjukkan bahwa tahapan-tahapan pertumbuhan
dan perubahan anak usia 9 tahun pertama rentang kehidupan relatif stabil dan
dapat diprediksikan tahapannya (Piaget 1952; Erikson 1963; Dyson & Genishi
1993; Gallahue 1993; Case & Okamoto 1996). Pengetahuan mengenai
perkembangan yang khas untuk setiap rentang usia anak membantu para orangtua
atau pendidik untuk mempersiapkan lingkungan belajar dan merencanakan
tujuan-tujuan kurikulum yang reaslistik dan pengalaman-pengalaman belajar yang
tepat menurut perkembangan anak.
3. Perolehan perkembangan bervariasi untuk setiap anak,
termasuk untuk keberfungsian semua dimensi perkembangan dalam diri anak.
Keragaman individual paling tidak dalam dua makna: keragaman dari
rata-rata/normatif arah perkembangan dan keunikan setiap anak sebagai individu
(Sroufe, Cooper, & DeHart 1992). Setiap anak adalah
seorang pribadi unik dengan pola dan waktu pertumbuhan bersifat individual,
sebagaimana halnya untuk kepribadian, temperamen, gaya belajar, latar belakang
dan pengalaman keluarga. Semua anak memiliki kelebihan, kebutuhan-kebutuhan,
dan minat-minat masing-masing; sejumlah mungkin memiliki kebutuhan belajar dan
perkembangan yang khusus. Pemahaman tentang keragaman yang luas bahkan pada
anak-anak usia kronologis (usia yang dihitung sejak anak lahir) yang sama,
hendaknya mengantarkan kita pada kesadaran bahwa usia anak hanyalah sebuah
gambaran kasar untuk kemasakan perkembangan anak.
4. Pengalaman-pengalaman awal memberikan pengaruh yang
bersifat kumulatif maupun tertunda terhadap perkembangan anak; ada
periode-periode optimal untuk jenis-jenis perkembangan dan belajar tertentu.
Pengalaman-pengalaman awal anak, baik positif atau negatif, bersifat kumulatif
dalam arti bahwa jika sebuah pengalaman frekuensi kejadiannya jarang, maka hal
tersebut juga memiliki pengaruh minimal. Jika pengalaman-pengalaman positif atau
negatif sering terjadi, mereka memberikan dampak yang sangat kuat, lama, dan
bahkan memiliki dampak seperti bola salju (Katz & Chard 1989;
Kostelnik, Soderman, & Whiren 1993; Wieder & Greenspan 1993). Sebagai
contoh, pengalaman seorang anak prasekolah bersama anak-anak dalam tahun-tahun
prasekolah membantu dia mengembangkan keterampilan-keterampilan sosial dan
kepercayaan diri yang memungkinkan dia memiliki teman-teman/persahabatan dalam
tahun-tahun pertama sekolah dan pengalaman-pengalaman ini selanjutnya
menguatkan kompetensi sosialnya. Sebaliknya, anak-anak yang gagal untuk
mengembangkan kompetensi sosial minimal dan diabaikan atau ditolak teman-teman
sebayanya memiliki resiko tinggi untuk drop out sekolah, menjadi anak-anak dan
remaja nakal, dan menunjukkan permasalahan kesehatan mental ketika mereka
dewasa (Asher, Hymel, & Renshaw, 1984; Parker & Asher 1987).
5. Perkembangan berjalan dalam arah yang dapat
diprediksikan menuju sebuah kondisi yang lebih kompleks, lebih terorganisasi,
dan lebih terinternalisasi. Belajar selama periode anak usia dini berlangsung
dari pengetahuan yang berbentuk perilaku menuju pengetahuan yang berbentuk
simbolik (Bruner 1983).
Sebagai contoh, anak-anak belajar untuk
mengenali rumah mereka dan tempat-tempat lain yang mereka kenal lebih dahulu
sebelum mereka dapat memahami kata-kata kiri dan kanan atau membaca peta sebuah
rumah. Program-program yang tepat menurut tahapan perkembangan
menyediakan banyak kesempatan kepada anak-anak untuk memperluas dan memperdalam
pengetahuan mereka yang bersifat pengetahuan dengan menyediakan sebuah
pengalaman langsung yang bervariasi dan membantu anak-anak menguasai
pengetahuan yang bersifat simbolik melalui representasi pengalaman-pengalaman
mereka dalam media yang beragam seperti menggambar, melukis, menyusun model,
bermain drama, deskripsi-deskripsi verbal dan tertulisa (Katz1995).
6. Perkembangan dan belajar terjadi dalam dan
dipengaruhi oleh kontek social cultural yang majemuk. Bronfenbrenner (1979,
1989, 1993) menyediakan sebuah model ekologis untuk memahami perkembangan
manusia. Bronfenbrenner menjelaskan bahwa perkembangan anak paling baik
dipahami dalam kontek keluarga, setting pendidikan, komunitas, dan masyarakat
yang lebih luas. Kontek-kontek yang beragam ini berhubungan satu sama lain dan
semuanya memiliki pengaruh terhadap anak yang sedang berkembang. Sebagai
contoh, bahkan seorang anak diasuh dalam keluarga yang mencintai dan
mendukungnya, komunitas yang sehat dipengaruhi oleh bias-bias masyarakat yang
lebih luas, seperti rasisme atau seksisme, dan kemungkinan memperlihatkan
pengaruh negatif dari stereotif negative dan diskriminasi.
7. Anak-anak adalah pembelajar aktif, mengalami
langsung pengalaman fisik dan sosial sebagaimana halnya pengetahuan yang
ditransmisikan secara kultural untuk menyusun pemahaman-pemahaman mereka
sendiri tentang dunia yang ada di sekitar mereka. Anak-anak memiliki kontribusi
terhadap perkembangan dan belajar mereka sendiri sebagaimana halnya mereka
berusaha untuk menanggapi pengalaman-pengalaman harian mereka di rumah, program
usia dini dan komunitas. Prinsip-prinsip dari praktek yang sesuai dengan
tahapan perkembangan didasarkan pada teori-teori dominan yang memandang bahwa
perkembangan intelektual dari sebuah perspektif konstruktivis-interaktif (Dewey
1916; Piaget 1952; Vygotsky 1978; DeVries & Kohlberg 1990; Rogoff 1990;
Gardner 1991; Kamii & Ewing 1996).
8. Perkembangan dan belajar merupakan hasil interaksi
antara maturasi biologis dan lingkungan, baik fisik maupun sosial, di mana
anak-anak tinggal di dalamnya. Prinsip ini menunjukkan bahwa manusia merupakan
produk hereditas (biologis) dan lingkungan dan kedua kekuatan ini berhubungan
satu sama lain. Sebagai
contoh, sebuah bawaan genetik kemungkinan memprediksi pertumbuhan yang sehat,
tetapi nutrisi yang tidak mencukupi dalam tahun-tahun awal kehidupan mengganggu
terpenuhinya potensi tersebut. Disabilitas yang parah, baik disebabkan
hereditas atau lingkungan, kemungkinan dapat diperbaiki melalui intervensi yang
sistematik dan tepat. Demikian juga halnya, seorang anak dengan temperamen yang
dibawanya—sebuah kecenderungan psikologi dalam menanggapi situasi
tertentu—membentuk dan dibentuk oleh bagaimana anak-anak lain dan orang-orang
dewasa berkomunikasi dengan anak tersebut
9. Bermain merupakan sebuah instrumen penting bagi
perkembangan sosial, emosional, dan kognitif anak-anak, juga sebagai sebuah
refleksi atas perkembangan mereka. Memahami bahwa anak adalah
konstruktor-konstruktor aktif atas pengetahuan yang dimiliki dan bahwa
perkembangan dan belajar sebagai hasil proses interaktif, para guru anak usia
dini mengakui bahwa bermain bagi anak merupakan sebuh kontek yang sangat mendukung
untuk proses-proses perkembangan tersebut (Piaget 1952; Fein 1981; Bergen 1988;
Smilansky & Shefatya 1990; Fromberg 1992; Berk & Winsler 1995). Bermain
memberi anak-anak kesempatan-kesempatan untuk memahami dunia, berinteraksi
dengan orang lain dalam cara-cara yang secara sosial diterima, mengekspresikan
dan mengontrol emosi-emosi, dan mengembangkan kapabilitas-kapabilitas simbolik
mereka. Permainan anak memberi orang-orang dewasa pencerahan-pencerahan atas
perkembangan anak-anak dan kesempatan-kesempatan untuk mendukung pengembangan
strategi-strategi baru. Vygotsky (1978) meyakini bahwa bermain mengarahkan
perkembangan, sebagai contoh, permainan simbolik dapat mempromosikan
perkembangan abilitas-abilitas representasi simbolik.
10. Perkembangan
tingkat lanjut dicapai ketika anak-anak memiliki kesempatan-kesempatan untuk
mempraktekkan keterampilan-keterampilan yang baru dikuasai, sebagaimana juga
mereka mengalami sebuah tantangan dalam level di atas penguasaan mereka
sekarang ini. Penelitian-penelitian mendemonstrasikan bahwa anak-anak perlu
untuk mampu menegosiasikan sebagian besar tugas-tugas belajar dengan sukses
untuk memelihara motivasi dan keteguhan mereka (Lary 1990; Brophy 1992).
Dihadapkan pada kegagalan yang berulang, kebanyakan anak-anak berhenti untuk
mencoba. Implikasinya adalah bahwa pada sebagian besar waktu para guru
seharusnya menyediakan anak-anak dengan tugas-tugas yang dengan usaha-usahanya
mereka dapat menyelesaikan dan mempresentasikannya sesuai dengan tingkat pemahaman
mereka.
11. Anak-anak
menunjukkan cara-cara yang berbeda dalam mengetahui dan belajar, dan cara-cara
yang berbeda dalam merepresentasikan apa yang mereka ketahui. Pada kurun waktu
tertentu, para teoritisi belajar dan ahli psikologi perkembangan telah mengakui
bahwa manusia terlahir untuk memahami dunia dalam cara-cara yang beragam dan
bahwa setiap individu cenderung memiliki preferensi atau model belajar
tertentu. Studi-studi perbedaan dalam modalitas belajar telah menemukan hal
yang kontras antara pembelajar visual, auditori, atau taktil. Sementara karya
yang lain telah mengidentifikasi jenis pembelajar mandiri atau dependen (Witkin
1962).
12. Anak-anak
berkembang dan belajar dengan sangat baik dalam kontek sebuah komunitas di mana
mereka aman dan dihargai, kebutuhan-kebutuhan fisik mereka terpenuhi, dan
mereka merasa secara psikologis aman.
terima kasih sebaiknya ditambah dengan kalimat analisis sendiri supaya lebih baik tulisannya
ReplyDelete