MATA KULIAH: KE-PGRI-an (KELAS FE- I-F) RUANG K.6 (15.35-17.20)
Hari/Tanggal : Senin, 30 September 2019
Hari/Tanggal : Senin, 30 September 2019
Diskusi Kelompok kecil
buatlah kelas menjadi 4 kelompok akan membahas:
Kelomok 1-2 materi sejarah PGRI
kelompok 3-4 materi perjuangan PGRI
1. SEJARAH PGRI:
Silahkan
anda buka link dibawah ini kemudian buatlah 2 kelompok terdiri atas
4-8 mahasiswa masing masing kelompok membahas 1 isi dari alamat link di
bawah ini atau ada link lain materi sejenis asalkan di sebutkan
sumbernya secara jelas. Buatlah resume dari hasil kerja kelompok anda
kemudian jawaban langsung diisikan di blogger semangat belajar paling
akhir hari ini pukul 18.00 Wib. Jangan lupa isi presensi dan jurnal
perkuliahan anda:
Kelompok 1: https://id.wikipedia.org/wiki/Persatuan_Guru_Republik_Indonesia (bisa cari alternatif link lain yang materi sama)
Kelompok
2:
https://sigitajiputra.wordpress.com/2009/12/07/sejarah-persatuan-guru-republik-indonesia
(bisa cari alternatif link lain yang materi sama)
2. PERJUANGAN PGRI
Silahkan
anda buka link dibawah ini kemudian buatlah 2 kelompok terdiri
atas 4-8 mahasiswa masing masing kelompok membahas 1 isi dari alamat
link di bawah ini atau ada link lain materi sejenis asalkan di sebutkan
sumbernya secara jelas. Buatlah resume dari hasil kerja kelompok anda
kemudian jawaban langsung diisikan di blogger semangat belajar paling
akhir hari ini pukul 18.00 Wib. Jangan lupa isi presensi dan jurnal
perkuliahan anda:
Kelompok
3:
https://www.republika.co.id/berita/pendidikan/eduaction/16/06/25/o9c3ft299-perjuangan-pgri-bukan-hanya-untuk-kepentingan-guru
(bisa cari alternatif link lain yang materi sama)
Kelompok 4 : https://www.uinjkt.ac.id/id/pgri-rumah-perjuangan-guru/ (bisa cari alternatif link lain yang materi sama)
SELAMAT MENGERJAKAN
mohon mengerjakan langsung disini jawaban diskusi, selesaikan selama jam perkuliahan atau paling lambat pukul 18.00. Terima kasih
ReplyDeleteKelompok 2
Delete1. Tiarayani Nurrachmawati /19.1.02.02.0059
2. Lintang Aprilia / 19.1.02.02.0298
3. Dwi Argo Oktaviadi / 19.1.02.02.0046
4. Muhammad Fikri Azhar / 19.1.02.02.0051
5. Bagus Dara Cahyo S / 19.1.02.02.0055
6. Ilham Putra Pratama / 19.1.02.02.0061
SEJARAH PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA
A. Gerakan Guru pada Masa Perjuangan Kemerdekaan
Semanat nasionalisme sudah lama tumbuh di kalangan guru semenjak lahirnya kesadaran berorganisasi, kesadaran perjuangan nasional, kesadaran untuk menuntutpersamaan hak dan posisi dengan pihak belanda.
Usaha perjuangan nasib dan posisi guru berjalan terus. Hasilnya antara lain adalah kepala HIS yang dahuli selalu dipegang oleh orang belanda, satu persatu pindah ke tangan bangsa indonesia.
Pada zaman kedudukan Jepang keadaan berubah segala organisasi dilarang, sekolah ditutup. Segala kegiatan pendidikan dan politik membeku. Barulah menjelang Jepang takluk kepada tentara sekutu, sekolah dibuka kembali.
B. Lahirnya PGRI Tanggal 25 November 1945
Proklamasi 17 Agustus 1945 mempunyai efek sangat besar terhadap seluruh pejuang kemerdekaan.pendiri Republik ini dan juga para guru pada kurun waktu pasca tahun 1945.
Semangat proklamasi itulah yang menjiwai penyelenggaraan Kongres Pendidikan Bangsa pada tanggal 24-25 November 1945 bertempat di Sekolah Guru Putri (SGP) Surakarta, Jawa Tengah. Dari kongres itu lahirlah Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) yang merupakan wahana persatuan dan kesatuan segenap guru diseluruh Indonesia. Pendiri PGRI adalah Rh. Koesnan, Amin Singgih, Ali Marsaban, Djajeng Soegianto, Soemidi Adisasmito, Abdullah Noerbambang, dan Soetono. Mereka serentak bersatu untuk mengisi kemerdekaan dengan tujuan:
a. Mempertahankan dan menyempurnakan Republik Indonesia.
b. Mempertinggi tingkat pendidikan dan pengaajaran sesuai dengan dasar-dasar kerakyatan.
c. Membela hak dan nasib buruh umumnya, guru pada khususnya.
PGRI merupakan organisasi pelopor dan pejuang karena itu para pendiri PGRI mengangkat semangat persatuan dan kesatuan, tujuannya yaitu fungsi anggota PGRI sebagai pendidik bangsa bermaksud mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas hidup bangsa Indonesia dari segi pendidikan
.C. PGRI pada Masa Perang Kemerdekaan (1945-1949)
PGRI adalah “Kedaulatan Rakyat”dengan tujuan seperti disebutkan terdahulu. Dilihat dari tujuannya, sangat jelas bahwa cita – cita PGRI sejalan dengan cita – cita bangsa Indonesia secara keseluruhan. Para guru diIndonesia menginginkan kebebasan dan kemerdekaan, memacu kecerdasan bangsa dan membela serta memperjangkan kesejahtraan anggotanya.
perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah Bangsa Belanda lebih terorganisasi pemerintah pusat pada tanggal 5 Oktober 1945 TKR untuk melindungi keamanan Rakyat dari provokasi dan Agresi Belanda konferensinya tgl. 12 November 1945 Panglima Besarnya Kolonel Soedirman dengan Pangkat Jendral.
1. Kongkres II PGRI di Surakarta 21-23 November 1946
Melalui kongres ini PGRI mengajukan tuntutan kepada pemerintah:
1. Sistem pendidikan selekasnya didasarkan pada kepentingan nasional.
2. Gaji guru supaya tidak dihentikan.
3. Diadakan undang-undang pokok pendidikan dan undang-undang pokok pemburuhan.
2. Kongkres III PGRI di Madiun 27-29 Februari 1948
Kongkres yang diadakan dalam keadaan darurat ini memutuskan bahwa untuk meningkatkan efektivitas organisasi, ditempuh jalan dengan memekarkan cabang Cita-cita besar PGRI tercapai baik dibidang pendidikan maupun dibidang pemburuhan. Nama PGRI tidak asing lagi, termasuk diluar negeri. Dibuktikan adanya undangan dari NEA, juga undangan dari WCOTP untuk menghadiri kongkres II yang diadakan oada bulan Juli 1984 di London.
D. PGRI pada Masa Demokrasi Liberal (1950-1959)
Delete1. Kongkres IV PGRI di Yogyakarta 26-28 Februari 1950
Kongkres IV PGRI dihadiri beberapa utusan dari luar-luar “daerah Renville”, yaitu: Sukabumi, Cianjur, Tasikmalaya, bahkan dari Sumatra, yaitu: Sigli, Bukit tinggi, dan Lampung. Pengurus pusat SGI di Bandung datang pada kongkres IV di Yogyakarta untuk secara resmi menggabungkan diri kedalam PGRI dengan menyerahkan 38 cabang. Delegasi SGI terdiri atas, Jaman Soejanaprawira, Djoesar Kartasubrata, M.Husein, Wirasoepena, Omo Adimiharja, Sukarna Prawira, dan Anwar Sanusi. RIS diakui oleh Belanda pada tanggal 27 Desember 1949.
. Pada tahun 1950 pemerintah RI mengeluarkan PP No. 16/1950, sangat menguntungkan para guru, namun pelaksanaan penyesuaian gaji ternyata disana-sini berjalan serat. Kegembiraan menyambut keluarnya PP 16/1950 segera berbalik menjadi kekesalan dan keresahan, terutama dikalangan guru di Jawa Barat. Guru-guru diJawa Barat mengancam untuk mengadakan pemogokan, menurut rencana dimulai pada 12 Juni 1950 pukul 10.00 pagi. Usaha ini berhasil, akhirnya disetujui pemerintah. Hal ini mengokohkan wibawa PGRI dibuktikan dengan lancarnya PP No. 32/1950 tentang penghargaan kepada pelajar pejuang.
2. Kongres V PGRI di Bandung 19-24 Desember 1950
Kongres V merupakan “Kongres Persatuan”. Kongres dihadiri oleh perwakilan luar negeri yang ada diJakarta. Rapat diadakan dipusat kebudayaan Jln. Naripan, kongres ini membicarakan suatu masalah yang prinsipil dan fundamental bagi kehidupan dan perkembangan PGRI yaitu asas organisasi akankah memilih sosialisme keadilan sosial ataukah pancasila. Akhirnya, pancasila diterima sebagai asas organisasi. Sejak kongres V mulai nyata daerah dibentuk beserta susunan pengurusnya konferda mulai dilaksanakan. Mulanya konferda dilaksanakan di Cirebon, Solo, Jember pada Maret 1951, selanjutnya konferda meluas ke pulau lainnya, tanggal 27 Februari 1952 di Makassar dan 20 maret 1952 di Banjarmasin. Hasil nyata dari konsolidasi ialah masuknya 47 cabang di Sulawesi dan Kalimantan kedalam barisan PGRI.
3. Kongres VI PGRI di Malang 24-30 November 1952
Kongres menyepakati beberapa keputusan panting. Dalam bidang organisasi, menetapakan asas PGRI ialah keadilan social dan dasarnya ialah demokrasi, PGRI tetap dalam GSBI. Dalam bidang pemburuhan memperjuangkan kendaraan bagi pemilik sekolah, intruktur penjas, dan pendidikan masyarakat. Dalam bidang pendidikan:
1) System pengajaran diselaraskan dengan kebutuhan Negara pada masa pembangunan.
2) KPKPKB dihapuskan pada akhir tahun pelajaran.
3) KPKB ditiadakan diubah menjadi SR 6 th
4) Kursus B-I/B-II untuk pengadaan guru SLTP dan SLTA diatur sebaik-baiknya.
5) Diadakan Hari Pendidikan Nasional.
4. Kongres VII PGRI di Semarang 24 November s/d 1 Desember 1954
Hasil kongres ini antara lain:
Bidang Umum : Pernyataan mengenai Irian Barat, pernyataan mengenai korupsi, resolusi mengenai desentralisasi sekolah, resolusi mengenai pemakaian keuangan oleh kementrian PP dan K, dan resolusi mengenai penyempurnaan cara kerja kementrian PP dan K.
Bidang Pendidikan : Resolusi mengenai anggaran belanja PP dan K yang harus mencapai 25% dari seluruh anggaran belanja Negara, resolusi mengenai UU sekolah rakyat dan UU kewajiban belanja, resolusimengenai film, gambar, tektur, serta radio dan pembentukan dewan bahasa nasional.
Bidang Pemburuhan : UU pokok kepegawaian, peleksanan peraturan gaji, pegawai baru, tunjangan khusus bagi pegawai yang tugas di daerah yang tidak aman, ongkos perjalanan cuti besar, Guru SR dinyatakan sebagai pegawai negri tetap, dan penyelesaian kepegawaian.
Bidang Organisasi : Pernyataan PGRI untuk keluar dari GBSI dan menyatakan diri sebagai organisasi “Non-Vaksentral”.
5. Kongres VIII PGRI di Bandung 1956
E. PGRI pada Masa Demokrasi Terpimpin (1959-1965)
DeletePada kongres IX di Surabaya bulan oktober /November 1959,soebandri dkk.Melancarkan politik adu domba diantara para kongres, terutama pada waktu pemilihan Ketua Umum.Usaha tersebut tidak berhasil, ME.Sugiadinata terpilih lagi sebagai Ketua Umum BP PGRI.
1. Lahirnya PGRI Non-Yaksentral/PKI
Periode tahun 1962-1965 terjadi perpecahan dalam tubuh PGRI yang lebih hebat. Penyebab perpecahan itu karena ambisi politik dari luar dengan dalih”machsovorming en machsaanwending” (pembentukan kekuatan dan panggunaan kekuatan).
2. Pemecatan Massal Pejabat Departemen P&K (1964)
Pidato inangrasi Dr.Busono wiwoho pada rapat
pertama Majelis Pendidikan Nasional (Mapenas)dalam kependudukannya sebagai salah seorang wakil ketua, menyarankan agar Pancawardhana diisi dengan moral “panca cinta”.
3. PGRI Pasca-Peristiwa G30 S/PKI
Periode th. 1966-1972 merupakan masa perjuangan untuk turut menegakan Orde Baru. 1957 di Jakarta dilanjutkan kembali mulai Juli 1973 di Bandung, Yogyakarta, dan Pandaan, Jawa Timur.
PGRI mencoba untuk turut memprakarsai dan menghimpun organisasi-organisasi pegawai negeri dakam bentuk RKS. Selanjutnya PGRI memprakarsai pendirian PSPN dengan ketua Umumnya M.E. Subiadinata. Pada tahun 1967, PGRI memprakarsai berdirinya MPBI. Sebagai pengembangan dari MPBI lahirlah FBSI.
4. Usaha PGRI Melawan PGRI Non-Vaksentral/PKI
PGRI tidak luput dari ancaman tersebut. Pada kongres IX PGRI di Surabaya (oktober 1959),infiltrasi PKI kedalam tubuh PGRI benar” terasa,dan lebih jelas lagi dalam kongres X di Jakarta(November 1962).
F. PGRI sejak lahirnya orde baru
Delete1. Kesatuan aksi guru Indonesia KAGI
Peristiwa G30S/PKI merupakan puncak dari apa sebelumnya berlangsung dalam tubuh PGRI.
Bersama para pelajar,mahasiswa,sarjana,dll,para guru anggota PGRI turun kejalan dengan meneriakan tritura (tri tuntunan rakyat) yakni :”bubarkan PKI,ritul 100 mentri,danturunkan harga-harga!”. Mereka membentuk kesatuan” aksi misal’a KAMI,KASI,sedangkan para guru” membentuk KAGI pada tanggal 2 februari 1966.
Perlu ditambahkan bahwa KAGI pada mulanya terbentuk dijakarta raya dan jawa barat, kemudian berturut” terbentuk KAGI di wilayah lainnya.
Bukti keberasilan kekuatan orde baru dalam kongres ini terlihat dari hasil” kongres di bidang unsure atau politik atau PB PGRI masa bakti XI adapun hasil” kongres XI adalah
• Menjunjung tinggi HAM
• PGRI diwakili secara resmi dalam DPRGR atau MPRS
• Frontnasional di bubarkan
• PGRI ditegaskan kembali sebagai organisasi yang bersifat UNITARISTIK,INDEPENDEN dan NON partai politik
• DLL.
Selanjutnya,hasil XI PGRI di bidang organisasi :
• INTENSIFIKASI penerangan tentang kegiatan organisasi melalui pers,Radio,TV dan Majalah Suara Guru.
• Pendidikan kader organisasi secara teratur dan terencana
• PGRI menjadi anggota WCOTP
• Dll.
2. Konsulidasi organisasi pada awal orde baru
Menarik juga untuk di simak kembali seri tulisan harian kompas tahun 1967 yang berjudul PORAK PORANDANYA KERETA PGRI DI JAWA TENGAN tulisan ini merupakan “serangn” kepada
Pada tahun 1969 atas perdesakan nasib guru yang d.bentuk PGRI,pemerintang setuju untuk mencairkan tunjangan kelebihan mengajar bagi guru” SD di seluruh Indonesia
Hubungan PGRI dengan organisasi guru mulai di rintis kembali.Pada bulan juli 1966 secara resmi diterima menjadi anggota WCOTP dalam kongres guru se Dunia soel di Korea selatan.SEtelah itu,PGRI d.undang untuk mengikuti tradeunionleader course di negeri belanda selama 4 bulan,kursus di adakan 2 angkatan :
Angkatan 1 pada tahun 1969 dan angkatan 2 1970.
3. Arti Lambing PGRI
• Bentuk cakra atau lingkaran melambangkan cita – cita luhur dan daya upaya manaikan pengapdian yang terus menerus
• Ukuran,corak dan warna : bidang bagian pinggir rulingkara berwarna merah melambangkan pengabdian yang d.landasi kemurnian dan keberanian bagi kepentingan rakyat.Warna petih dengan tulisan persatuan guru republic Indonesia melambangkan paduan warna pinggir merah pitih melambangkan pengabdian pada Negara,bangsa dan tanah air Indonesia.
• Suluh berdiri tegak bercorak 4 garis tegak dan datar berwarna kuning melambangkan fungsi guru (pada penddidkan pra sekolah,dasar,menengah dan perguruan tinggi)dengan hakikat tugas pengabdian guru sebagai pendidikan yang besar dan luhur.
• Nyala api dengan 5 sinar waena merah melambangkan arti ideologi dan arti teknis yakni sasaran budi pekerti,cipta,rasa,karsa,dan karya generasi.
• 4 buku mengapit suluh dengan posisi 2 datar dan 2 tengak ( simetris)dengan warna corak putih melambangkan sumber ilmu yang menyangkut nilai” moral,pengetahuan,keterampilan,dan akhlak bagi tingkatan lembaga” pendidikan,pra sekolah,dasar,menengah, dan tinggi.
G. Refeleksi tentang masa depan PGRI
DeleteApa bila kita dengan sadar dan sengaja menyediakan waktu untuk meneliti kembali secara cermat gagasan”, pola tindakan dan prestasi PGRI sejak awal berdirinya sampai sekarang maka kita temukan kembali bahwa pada hakikatnya PGRI adalah sebuah organisasi propesi pendidik dan pada umumnya dan para guru padaG. Refeleksi tentang masa depan PGRI
Apa bila kita dengan sadar dan sengaja menyediakan waktu untuk meneliti kembali secara cermat gagasan”, pola tindakan dan prestasi PGRI sejak awal berdirinya sampai sekarang maka kita temukan kembali bahwa pada hakikatnya PGRI adalah sebuah organisasi propesi pendidik dan pada umumnya dan para guru pada khususnya .berdasarkan pengamatan ertahun”,tampak jelas bahwa PGRI seperti organisasi yang lainnya mempunyai pengalaman yang penting dalam rangka mensukseskan strategi yang bersifat kuantitatif,dalam arti menggalang masa secara politis,terutama waktu menjelang pemilu.
Masa depan menuntut semakin tingginya kualitas dari pada kuantitas (jumlah anggota).
PGRI sangat berpengalaman dalam melayani para anggota’a yang sebagian besar guru SD; sementara peningkatan kualitas propesi di perlukan oleh para guru para semua jenis dan jenjang pendidikan untuk itu,PGRI di tuntut untuk lebih akrab dengan berbagai permasalahan yang di hadapi oleh para guru sekolah menengah,dan bahkan para dosen di petrguruan tinggi khususnya .berdasarkan pengamatan pertahun”,tampak jelas bahwa PGRI seperti organisasi yang lainnya mempunyai pengalaman yang penting dalam rangka mensukseskan strategi yang bersifat kuantitatif,dalam arti menggalang masa secara politis,terutama waktu menjelang pemilu.
PGRI sangat berpengalaman dalam melayani para anggotanya yang sebagian besar guru SD; sementara peningkatan kualitas propesi di perlukan oleh para guru para semua jenis dan jenjang pendidikan untuk itu,PGRI di tuntut untuk lebih akrab dengan berbagai permasalahan yang di hadapi oleh para guru sekolah menengah,dan bahkan para dosen di perguruan tinggi.
This comment has been removed by the author.
ReplyDeleteKelompok : 1
ReplyDeleteKelas. : 1F
Nama anggota :
1. M. Firman Hakim
(19.1.02.02.0144)
2. Tri Wulandari
(19.1.02.02.0056)
3. Elsa Unung T.
(19.1.02.02.0045)
4. Angga Riyan S.
(19.1.02.02.0128)
5. M. Ayungga R.R
(19.1.02.02.0063)Persatuan Guru Republik Indonesia (disingkat PGRI) adalah organisasi di Indonesia yang anggotanya berprofesi sebagai guru. Organisasi ini didirikan dengan semangat perjuangan para guru pribumi pada zaman Belanda, pada tahun 1912 dengan nama.mmiml. Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB).Berdiri pada tanggal 25 November 1945 di Surakarta, Jawa Tengah
Organisasi ini bersifat unitaristik yang anggotanya terdiri dari para guru bantu, guru desa, kepala sekolah, dan penilik sekolah. Dengan latar pendidikan yang berbeda-beda, mereka umumnya bertugas di sekolah desa dan sekolah rakyat angka dua.
Tidak mudah bagi PGHB memperjuangkan nasib para anggotanya yang memiliki pangkat, status sosial dan latar belakang pendidikan yang berbeda.
Kesadaran kebangsaan dan semangat perjuangan yang sejak lama tumbuh mendorong para guru pribumi memperjuangkan persamaan hak dan posisi terhadap pihak Belanda. Hasilnya antara lain adalah kepala HIS yang dulu selalu dijabat oleh orang Belanda, satu per satu pindah ke tangan orang Indonesia. Semangat perjuangan ini makin berkobar dan memuncak pada kesadaran dan cita-cita kemerdekaan. Perjuangan guru tidak lagi perjuangan perbaikan nasib, tidak lagi perjuangan kesamaan hak dan posisi dengan Belanda, tetapi telah memuncak menjadi perjuangan nasional dengan teriak “merdeka”.
Pada tahun 1932 nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) diubah menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI). Perubahan nama ini mengejutkan pemerintah Belanda, karena kata “Indonesia” yang mencerminkan semangat kebangsaan sangat tidak disenangi oleh Belanda. Sebaliknya kata “Indonesia” ini sangat didambakan oleh guru dan bangsa Indonesia.
Pada zaman pendudukan Jepang segala organisasi dilarang, sekolah ditutup, Persatuan Guru Indonesia (PGI) tidak dapat lagi melakukan aktivitas.
Semangat proklamasi 17 Agustus 1945 menjiwai penyelenggaraan Kongres Guru Indonesia pada tanggal 24-25 November 1945 di Surakarta. Melalui kongres ini segala organisasi dan kelompok guru yang didasarkan atas perbedaan tamatan, lingkungan pekerjaan, lingkungan daerah, politik, agama dan suku, sepakat dihapuskan. Mereka adalah guru-guru yang aktif mengajar, pensiunan guru yang aktif berjuang, dan pegawai pendidikan Republik Indonesia yang baru dibentuk. Mereka bersatu untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia. Di dalam kongres inilah, pada tanggal 25 November 1945 - seratus hari setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia - Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) didirikan.
Dengan semangat pekik “merdeka” bertalu-talu, di tengah bau mesiu pengeboman oleh tentara Inggris atas studio RRI Surakarta, mereka serentak bersatu untuk mengisi kemerdekaan dengan tiga tujuan:
Mempertahankan dan menyempurnakan Republik Indonesia.
Mempertinggi tingkat pendidikan dan pengajaran sesuai dengan dasar-dasar kerakyatan.
Membela hak dan nasib buruh umumnya, guru pada khususnya.
Sejak Kongres Guru Indonesia itu, semua guru Indonesia menyatakan dirinya bersatu di dalam wadah Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).
Kelas : 1 F
ReplyDeleteKelompok 4 :
1. Ratna Puji Lestari (19.1.02.02.0178)
2. Muhammad Arief Kurniawan
( 19.1.02.02.0062)
3. Ariel jason setiawan ( 19.1.02.02.0174)
4. ARDI SHINA TOYA SAHARA
( 19.1.02.02.0294)
5. Muhammad Nizar Fauzi Romzi
( 19.1.02.02.0067)
6. Muh. Oka Anang Saputra
( 19 19.1.02.02.0150)
25 november diperingati sebagai hari guru nasional (HGN).
PGRI merupakan suatu diantara banyak organisasi dulu yang ada di indonesia.
Seperti ikatan guru indonesia (IGI), Federasi Guru Independent indonesia (FGII), dan Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI)dan masih banyak yang lain.
Dalam UU guru dan dosen tahun 2005 Pasal 14 tegas tertulis " guru membentuk organisasi profesi yang bersifat independent yang bertujuan untuk memajukan profesi ,rumah meningkatkan kompetensi, karir,wawasan pendidikan, perlindungan profesi,kesejahteraan dan pengabdian pada masyarakat.
Pasal ini mandul karena tidak semua guru sadar berorganisasi. tidak ada yang memaksa guru, dan tidak perlu dipaksa.
* Peningkatan Kompetensi*
Pertama guru memerlukan wadah peningkatan kompetensi dan profesionalisme.
PGRI misalnya, setiap tahun memperingati HGN dan HUT PGRI mengadakan pekan olahraga dan seni (PORSENI) bagi guru di tiap wilayah kabupaten atau kota.
Tidak hanya bidang olahraga dan seni, dilombakan juga Karya Tulid Ilmiah( KTI)
ini tradisi yang baik, meski memerlukan kerja keras dari setiap panitia. Dalam perlombaan ada spirit persatuan, kekompakkan, disiplon, kejujuran, pengorbanan, dan kerja sama.
Sebagai mengajar nilai mereka harus mampu menjadi pelaksana nilai.
Potensi akademik dan non akademik guru terwadahi. Pengakuan bahwa setiap individu terampil, kuat, dan bagus dalam bidangnya masing-masing. Inilah praktik kecerdasan jamak Howard Gardner bagi guru oleh PGRI.
PGRI tidak bekerja sendiri tetapi bekerja sama dengan banyak pihak, seperti ASEAN Council of Teacher (ACT) + Korea selatan, Educational International (EI),Telkom, Microsoft, Bulog, Pemerintah, dan Pemerintah Daerah.
Pengalaman guru terlibat kegiatan akademik di dalam dan di luar negeri merupakan strategi pembentukan guru profesional dan kompeten. Mengembangkan berpikir kritis, kreatif, dan inovatif. Pemicunya mau maembaca keberhasilan orang dan negara lain.
Ukuran keberhasilan pembinaan guru oleh PGRI dan pemerintah adalah pengajaran yang menyenagkan, efektif, dan inovatif. Bentuk Karya ilmiah atau makalah dan pemenangnya akan diterbitkan oleh PGRI.
Rumah Perjuangan
Kedua guru memerlukan rumah perjuangan. PGRI terlibat aktif dalam setiap masalah yang diahadapi guru, seperti persoalan hukum, kesejahteraan, status, dan profesi guru.sepanjang tahun masalah-masalah ini muncul kasus baru. Semua organisasi mengalami hal yang sama menghadapi masalah dan menyelesaikannya.
Guru merupakan profesi mulia tapi sering tidak dipahami oleh orang tua murid. Prinsipnya yang benar dibela dan yang salah dihukum.
Tujuan profesi guru dan dosen sebesar satu kali gaji pokok adalah hasil perjuangan PGRI dan lainnya melalui jalur diplomasi dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).
PGRI berhasil menambah kesejahteraan guru melalu serangkaian dialog panjang dengan bupati, walikota, dan gubernur. Demikian juga status guru honorer atau guru tidak tetap (GTT) dibeberapa daerah mendapatkan kepastian setelah memperoleh pengakuan dari pemerintah daerah karena usaha PGRI dan pemimpin daerah yang peduli guru.
Perjuangan masih panjang belum semua perjuangan pendidikan PGRI berhasil,seperti pengakatan guru honorer menjadi ASN tanpa Tes,kekurangan guru SD dan SMP,uji kopetensi guru (UKG) hanya untuk pemetaan kopetensi guru.
Sederet kerja baik dan benar itu tidak mulus. Jalannya berliku,perlu pengorbanan dan kekompakan.
Kekuatan PGRI adalah guru itu sendiri. Guru yang sadar pentingnya dan terlibat organisasi. Dalam organisasi guru bisa belajar bersama dan berjuang demi nasib guru yang lebih baik dan profesional.
This comment has been removed by the author.
ReplyDeleteThis comment has been removed by the author.
ReplyDelete