Tugas Resume Artikel Semdikjar 3



Nama Kelompok : 1. Elvira Yosi Rahmawati   (17.1.01.11.0005)
                                2. Ulvi Nor Novitasari         (17.1.01.11.0009)

Resume Emosi Anak Usia Dini Melalui Metode Bermain Kolaboratif (Studi Kasus Pada Anak Kelompok B1 di TK Negeri Pembina Mojoroto)
Anik Lestariningrum1, Isfauzi Hadi Nugroho2, Kuntjojo3
Universitas Nusantara PGRI Kediri123
anikl@unpkediri.ac.id1, isfauzi@unpkediri.ac.id2,
kuntjojo@unpkediri.ac.id3

Pelaksanaan penelitian ini dilakukan karena ditemukanya permasalahan tentang kemampuan mengendalikan diri anak di kelompok B1 TK Negeri Pembina Mojoroto dimana kondisi pengendalian emosi belum mampu secara optimal. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui peningkatan kemampuan pengendaalian emosi dengan menerapkan metode bermain kolaboratif. Berdasarkan Standar Tingkat pencapaian Perkembangan (STTPA) yang termuat dalam Permendikbud 137 tahun 2014 tentang capaian perkembangan sosial emosional anak usia 5-6 tahun meliputi konsep kesadaran diri, rasa tanggungjawab untuk diri sendiri dan orang lain dan perilaku prososial. Untuk mencapai indicator masing-masing capaian perkembangan diperlukan sebuah Kontrol emosi, atau mengendalikan emosi agar ketika berada di lingkungan bisa diterima dalam kelompok sosialnya. Kolaborasi adalah konsep bisa digunakan dalam segala situasi, ketika ada sekelompok anak atau seseorang berada dalam satu lingkup. Prinsip dasar kolaboratif ini adalah terjalinnya kerjasama antar kelompok dimana akan menjadi lawan sebagai ajang kompetensi yang menggabungkan masing keunggulan individu. Seorang anak berkembang individu juga tergantung dari lingkungan dimana akan menstimulasi dan memperlakukan mereka. Pendidik harus bisa mengakomodasi kekhasan karakteristik anak berdasarkan tahapan perkembangannya. Berdasarkan observasi yang dilakukan di Kelompok B1 TK Negeri Pembina Mojoroto ditemukan sebuah kasus salah anak apabila melakukan kegiatan bersama di kelas menunjukkan sikap emosi sering mudah meledak, marah yang tidak berasalan, memukul temannya, meskipun anak. ini mau mengerjakan tugas individunya sampai tuntas tetapi guru sering memberikan motivasi dan mengarahkan anak tersebut tentang pengendalian emosi sewajarnya dan bagaimana ia harus bersikap terhadap teman-teman di lingkungan kelompok kelasnya. Sikap tersebut dapat menganggu temannya fokus serta konsentrasinya berkurang karena melihat sikap temannya dan juga sering menganggu temannya ketika marah. Hasil observasi tersebut membawa peneliti untuk mengembangkan penggalian data, informasi terkait apa yang dialami oleh anak selama proses pembelajaran dan capaian perkembangan khususnya pengendalian emosi anak tersebut sebelum dilakukan penelitian. Berdasarkan wawancara yang dilakukan dengan guru kelas dan juga kepala sekolah, peneliti memperoleh data bahwa masa lalu dari sebelum anak ini bersekolah serta aktifitas  selama di kelas yang ternyata apa yang dicapai anak sekarang sudah mulai menurun. Pengalaman keluarga anak yang kurang baik dialami anak sebagai pemicu utama sikap tersebut muncul.
Menurut Hurlock, (dalam Srinahyanti, 2018;54) mengemukakan awal permulaan kehidupan seorang anak akan didik oleh orang tua akan mempengarui perilaku serta sikap anak. Kehidupan sebuah keluarga yang harmonis akan membuat anak terbentuk sifat positif dalam tumbuh kembangnya. Ketika masalah atau konflik muncul di lingkungan keluarga juga menganggu tumbuh kembang anak. Sebuah interaksi antar anggota keluarga akan mempengarui anggota keluarga yang lain termasuk masalah perceraian orang tua dari ikatan tali perkawinan. Efek perceraian tentunya menganggu perkembangan mental psikologis anak, hal ini juga berasal sumbernya pola asuh orang tuanya dimana pertamanya bersama akhirnya berjalan sesuai pilihan hidupnya. Metode bermain kolaboratif ini dipilih dengan alas an dimana saat anak-anak yang mengalami masalah pengendalian emosi akan berada di sebuah kelompok dimana ia harus melakukan kegiatan bekerjasama dalam kelompok berdasarkan kegiatan main yang sudah dirancang guru untuk mencapai sebuah tujuan sama di hasil akhir masing-masing kelompok tersebut. Bermain kreatif yang dirancang bermain secara berkelompok juga tidak terlepas dari bagaimana dunia anak-anak. Bagaimana anak dikemas oleh guru karena saat aktivitas bermain kreatif mewarnai sebuah gambar baju olah raga di lembar kegiatan anak dimana harus dikerjakan oleh anggota kelompok tersebut tanpa melihat hasil warna yang dipilih macam- macam anak supaya kreativitas muncul serta akhirnya individu anak sangat mudah di kontrol secara emosional terutama dalam mengendalikan diri hidup berkelompok. Harapan terbesar rancangan kegiatan bersama bermain kolaboratif ini akan memecahkan masalah yang dialami oleh kelas sebagai upaya agar kelas anak masing-masing memiliki kepekaan sosial mulai dari pengendalian emosi individu dulu.
Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif melalui pendekatan studi kasus. Dimana studi kasus ini akan memfokuskan dari eksplorasi pada sistem terbatas terhadap kasus khusus yang dialami anak yang kurang mampu mengendalikan emosi dengan menggali data secara mendalam. Informasi ragam data berasal dari partisipan terpilih teknik purposive memilih yang menjadi partisipan adalah anak didik di Kelompok B1 di TK Negeri Pembina Mojoroto Kota Kediri. Metode pengumpulan data melalui 3 teknik yaitu wawancara, observasi dan juga dokumentasi.
Hasil dari Pembelajaran Proyek Kelompok :
1.       Kegiatan observasi saat anak melakukan kegiatan ragam main di inti dimana anak dapat memilih kegiatan yang disukai dalam kelompoknya.
2.       Terlihat selama proses pembelajaran ada salah satu anak yang menarik diri dari kelompoknya setelah marah dan ekspresi kecewa kemudian diajak komunikasi apa yang menyebabkan menarik diri dari kelompoknya.
3.      Kegiatan pembelajaran proyek mewarnai tema baju olah raga dimana dalam 1 lembar harus dikerjakan bersama secara kolaboratif
4.      Hasil karya masing-masing kelompok dipasang ditempat haasil karyaku kemudian digunakan sebagai kegiatan penutup anak-anak mengkomunikasikan  karya dari kelompoknya dengan metode Tanya jawab
Hasil dari Pembelajaran Individual :
1.       Kegiatan pembukaan menjelaskan tema ada salah satu anak hanya berjalan berkeliling kurang fokus dalam memperhatikan penjelasan.
2.      Setelah mengamati anak ini memilih satu tugas kegiatan yang tidak ramai oleh temannya, kemudian ia mengerjakan duduk di kursi meskipun lama dalam mengambil keputusan tugas mana yang harus dikerjakan dulu
3.      Setelah di motivasi baru mau bergabung dengan temanya dalam menegerjakan tugasnya meskipun yang lain fokus masih sering menoleh ke kana ke kiri melihat pekerjaan temanya
4.      Hasil karya anak yang susah dalam mengendalikan emosi juga dapat terlihat dari pekerjaannya yang kurang rapi,kolase yang disobek juga besarbesar kurang sabar dan telaten tetapi ketika diminta menujukan hasil karyanya ia tersenyum karena merasa dihargai dari apa yang sudah dilakukannya
Capaian indikator yang dapat dideskripsikan dari penilaian skala perkembangan sosial emosional anak berdasarkan observasi dalam pembelajaran adalah : diperoleh hasil BB (Belum Berkembang) hanya ada 2 (dua) diantara indikator yang lain juga sudah mencapai BSB (Berkembang Sesuai Harapan). Berdasarkan capaian tertinggi ini penelusuran riwayat anak yang kurang mendapatkan perhatian dalam hal dihargai berkaitan dengan kasus yang dihadapi oleh anak menimbulkan anak mudah terpancing emosinya.
      Kemampuan anak mengendalikan diri secara emosional akan perlahan terbentuk ketika setiap hari diarahkan dengan mengatur emosinya pada situasi dan juga pengelolaan kelas yang mampu memberikan pelayanan anak tidak melakukan kegiatan menyendiri dan melakukan sesuai keinginan tanpa terkontrol. Pembelajaran bermain kolaboratif akan menghasilkan anak bisa menunggu giliran bermain, giliran mengungkapkan pendapat, giliran menyelesiak tugasnya , giliran membereskan mainan dan membantu teman yang belum menyelesaikan tugas dan membuat anak taat aturan patuh pada kesepakatan yang dibuat bersama Mashar dan Hughes, (dalam Mulyasa, Gandana, Muslim, 2017;221).
      Setelah mengetahui penyebab anak mudah dalam memuncak emosi tidak terkendali dan dilakukan kegiatan yang menempatkan dirinya merasa dihargai, ada kerjasama maka dapat disarankan merancang penelitian yang lebih banyak membuat rancangan program kegiatan yang melibatkan kerjasama, proyek, eksperimen dimana anak akan terlibat berkelompok dan saling menghargai dalam menjalankan tugasnya. Meskipun  kegiatan individu dapat dirancang ketika mengerjakan juga dalam pengelolaan kelas duduk bersama sehingga bisa saling membantu temannya yang belum mampu dalam menyelesaikan tugas individunya. Penghargaan  dan  motivasi sangat mendukung pencapaian anak dalam mengendalikan emosi disarankan juga pendidik lebih memahami upaya memotivasi anak dengan berbagai metode agar dalam capaian perkembangan terutama pengendalian emosi bisa tercapai optimal sesuai tahapan perkembangan anak.

Comments

Popular posts from this blog

Pentingnya Perencanaan Pembelajaran Anak Usia Dini

MAKNA, TUJUAN, FUNGSI, DAN PRINSIP PENGEMBANGAN ANAK USIA DINI