TUGAS RESUME ARTIKEL SEMDIKJAR ega&diana

TUGAS RESUME ARTIKEL SEMDIKJAR 3 PERENCANAAN PENGELOLAAN ANAK USIA DINI DOSEN PENGAMPU : Dr. Anik Lestariningrum, M.Pd DISUSUN OLEH : Ega Shabrina (17.1.01.11.0007) Diana Kusuma D (17.1.01.11.0014) PROGRAM STUDI PG-PAUD FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NUSANTARA PGRI KEDIRI 2019 Resume Pengendalian Emosi Anak Usia Dini Melalui Metode Bermain Kolaboratif (Studi Kasus Pada Anak Kelompok B1 di TK Negeri Pembina Mojoroto) Anik Lestariningrum1, Isfauzi Hadi Nugroho2, Kuntjojo3 Universitas Nusantara PGRI Kediri123 anikl@unpkediri.ac.id1, isfauzi@unpkediri.ac.id2, kuntjojo@unpkediri.ac.id3 Hasil resume Pengendalian Emosi Anak Usia Dini Melalui Metode Bermain Kolaboratif ( Studi Kasus Pada Anak Kelompok B1 Di TK Negeri Pembina Mojoroto). Konsep pengembangan anak usia dini meliputi berbagai aspek. Salah satunya yaitu kemampuan mengendalikan emosi secara wajar. Berdasarkan standar tingkat pencapaian perkembangan (STTPA) yang termuat dalam Permendikbud 137 tahun 2014 tentang capaian perkembangan social emosional anak usia 5-6 tahun meliputi konsep kesadaran diri, rasa taggung jawab untuk diri sendiri dan orang lain dan perilaku prososial. Permasalahan dapat muncul pada anak ketika belum bisa mengendalikan emosi dengan baik. Munculnya sikap yang tidak dapat diterima secara social karena adanya interaksi dalam sebuah kegiatan yang dilakukan dimana saat berinteraksi tersebut akan menghasilkan sebuah perilaku baik dan buruk. Berdasarkan observasi yang dilakukan di kelompok B1 TK Negeri Pembina Mojoroto ditemukan sebuah kasus yaitu salah anak apabila melakukan kegiatan bersama di kelas menunjukan sikap emosi sering mudah meledak, marah yang tidak beralasan, memukul temannya, meskipun anak mau mengerjakan tugas individu sampai tuntas tetapi guru juga sering memberikan motivasi dan mengarahkan anak tersebut tentang pengendalian emosi sewajarnya dan bagaimana ia harus bersikap terhadap teman-teman di lingkungan kelompok kelasnya. Sikap tersebut dapat mengganggu temannya focus serta konsentrasinya berkurang karena melihat sikap temannya dan juga sering mengganggu temannya ketika marah. Berdasarkan wawancara yang dilakukan dengan guru kelas dan kepalasekolah, peneliti memperoleh data bahwa masa lalu dari sebelum ana kini bersekolah serta aktifitas selama di kelas yang ternyata apa yang dicapai anak sekarang sudah mulai menurun. Pengalaman keluarga anak yang kurang baik dialami anak sebagai pemicu utama sikap tersebut muncul. Menurut Hurlock (dalam Srinah yanti , 2018;54) mengemukakan awal permulaan kehidupan seorang anak akan di didik oleh orang tua akan mempengaruhi perilaku serta sikap anak. Setelah mempelajari masalah penyebab kemampuan pengendalian diri anak salah satu penyebabnya adalah perceraian orang tua, kemudian pindah sekolah berada pada satu lingkungan baru yang membuat anak harus menyesuaikan diri pada sebuah suasana yang berbeda. Kemudian dilakukan koordinasi untuk membuat rancangan pembelajaran dengan guru kelas supaya masalah pengendalian emosi dapat dijadikan focus tujuan pembelajaran di kelompok B1. Salah satu metode yang dipilih sesuai dengan cara belajaran anak usia 5-6 tahun adalah bermain dimana akan digabung dengan merancang pembelajaran kolaboratif. Metode bermain kolaboratif ini di pilih dengan alasan dimana anak-anak yang mengalami masalah pengendalian emosi akan berada di sebuah kelompok dimana ia harus melakukan kegiatan bekerja sama dalam kelompok berdasarkan kegiatan main yang sudah dirancang oleh guru untuk mencapai tujuan sama di hasil akhir masing-masing kelompok. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif melalui pendekatan studi kasus. Dimana studi kasus khusus yang dialami anak yang kurang mampu mengendalikan emosi dengan menggali data secara mendalam. Setelah penggalian data yang dilakukan dengan melakukan observasi secara langsung, wawancara dengan guru serta kepala sekolah dan juga melihat proses pembelajaran. Menurut Medsker & Holdsworth (dalam Suyani, 2019:11) menyatakan anak yang diberikan pembelajaran kolaboratif akan memperoleh 3 hal utama yaitu memperoleh pengetahuan dengan mengajukan beragam pertanyaan saat di kelompoknya, memiliki sikap yang baik dan juga memiliki ketrampilan setelah melaksanakan tugas di kelompoknya. Melalui kegiatan bermain kolaboratif ketika harus berkomunikasi, anak belajar menghargai, belajar mengendalikan dirinya karena ragam main yang dikerjakan ada teman lain di sekitarnya yang perlu juga menyelesaikan tugasnya. Pembelajaran bermain kolaboratif akan menghasilkan anak bisa menunggu giliran bermain, giliran membereskan mainan dan membantu teman yang belum menyelesaikan tugas dan membuat anak taat aturan patuh pada kesepakatan yang dibuat bersama Mashardan Hughes, (dalam Mulyasa, Gandana, Muslim 2017;221). Melalui model bermain kolaboratif dapat disimpulkan bahwa anak yang di observasi melalui kegiatan pembelajaran berbasis bermain melibatkan kerjasama kolaboratif dalam mengerjakan tugasnya sudah bisa mencapai hasil BSH (berkembang sesuai harapan) saat mengkomunikasikan hasil karyanya.

Comments

Popular posts from this blog

Pentingnya Perencanaan Pembelajaran Anak Usia Dini

MAKNA, TUJUAN, FUNGSI, DAN PRINSIP PENGEMBANGAN ANAK USIA DINI