TUGAS RESUME SEMDIKJAR 3
TUGAS
“RESUME
PEMBELAJARAN KOLABORATIF”
DOSEN PENGAMPU :
Dr.
ANIK LESTARININGRUM,
M. Pd.
DISUSUN OLEH :
1. ADEA
JERY NURAFITRI
(17.1.01.11.0011)
2. UMI
ZAHROTUL
(17.1.01.11.0019)
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU
PENDIDIKAN
PENDIDIKAN GURU PENDIDIKAN ANAK
ANAK USIA DINI
UNIVERSITAS NUSANTARA PGRI KEDIRI
TAHUN
AJARAN 2019
PEMBELAJARAN KOLABORATIF
Dalam proses pembelajaran guru sangat berperan penting
dalam merancang suatu pengalaman mengenai belajar sebab belajar ini akan
menentukan kebermanfaatan maupun kebermaknaan anak secara menyeluruh. Namun
ketika guru harus menerapkan sebuah pengalaman belajar ini kepada murid, maka
guru harus mempunyai sebuah konsep-konsep yang nyata ataupun konsepsual
sehingga akan menjadikan pembelajaran yang efektif bagi anak. Pada keefektifan
belajar ini lingkungan sangat berarti dalam proses belajarnya misalkan dengan
adanya interaksi sesama teman ataupun dengan orang lain. Karena lingkungan
merupakan awal dari kehidupan yang ada disekitarnya. Selain itu untuk proses
sosialnya diperlukan adanya interaksi antar individu agar pendidikan melalui
kegiatan dapat berjalan dengan baik.
Perkembangan setiap anak tergantung dari lingukangan
yang ada disekitarnya, bagaimana lingkungan tersebut menstimulasi dan
memerlakukan anak. Sebagai seorang pendidik harus bisa mengkonsep sebuah
pembelajaran yang konsep tersebut bisa mewadahi pembelajaran anak. Melalui
konsep kolaborasi situasi apapun bisa terkendalikan, karena konsep ini
melibatkan sekelompok anak atau seseorang yang berada pada satu lingkup.
Kolaboratif ini memiliki prinsip dimana terjalinnya kerjasama antar kelompok
akan menjadi lawan sebagai ajang kompetensi yang menghubungkan masing-masing
keunggulan individu.
Pola asuh orang tua kepada anak juga mempengaruhi
perkembangan mental psikologis anak. Dimana jika kehidupan pada sebuah keluarga
yang harmonis akan membuat anak terbentuk sifat yang positif dalam tumbuh kembangnya.
Sebaliknya jika dalam sebuah keluarga itu memiliki sebuah masalah atau konflik
maka tumbuh kembang anak secara otomatis akan terganggu. Sehingga ketika anak
dilingkungan sekolah tingkat emosi anak terganggu karena anak merasa kurang
nyaman dalam belajar. Untuk membuat nyaman pada anak didik ketika belajar
apalagi ketika anak didik tersebut mempunyai masalah yang dating dari
lingkungan keluarganya, maka guru sebaiknya menggunakan metode belajar dengan
bermain, dimana dalam bermain ini digabungkan dengan merancang pembelajaran
kolaboratif.
Konsep pembelajaran kolaboratif menurut teori Vygotsky
adalah gagasan utama berasal dari berangkatnya pengalaman sosial, dimana
membangun sebuah pengalaman awal dalam diri anak tetapi ada pengaruh lingkungan
sekitar yang akan memaknai capaiannya dalam perkembangan. Ada juga menurut
teori Piaget bahwa anak akan melakukan tugas jika mereka bisa berpikir secara
berkelompok, dimana yang akan mereka alami direkam kelompok mengomunikasikan
hasil karyanya dilingkungan kelas. Pada pembelajaran kolaboratif tidak aka ada
pembedanya dalam mengerjakan tugas di setiap individu ketika berkelompok,
melainkan tugas yang ada dalam kelompok tersebut harus dikerjakan bersam-sama.
Dari pembelajaran kolaboratif ini akan mendapatkan sebuah pentingnya pengalaman
awal yang bermakna dan pemecahan masalah yang diselesaikan secara bersama
sehingga dapat mempengaruhi aspek sosial dalam hidupnya.
Dalam pembelajaran kolaboratif ini seorang anak
belajar berdasarkan keragaman kemampuan anak pada setiap individu sehinga dapat
menggabungkan potensi-potensi anak pada kelompok tersebut. Pada bermain
kolaboratif juga terdpat adanya suatu aktivitas dimana dalam bermain dilakukan
secara bersama-sama yang biasanya anak bermain sendiri maka dengan adanya
bermain kolaboratif maka anak tersebut dapat gabung bermain secara bersamaan
sehingga akan meningkatkan perkembangan sosial pada anak. Tetapi pada bermain
kolaboratif ini peran guru harus tetap ada dalam artian guru harus menjadi
sebagai pendamping serta fasilitator. Dimana guru harus berperan menyiapkan
tahapan bermain sebagai kegiatan awal dalam merencanakan kegiatan yang
dilakukan, melaksanakan rancangan kegiatan dan evaluasi proses kegiatan yang
sudah dilakukan. Guru juga harus mampu dalam menguasai karakteristik anak dan
keberagaman kemampuan anak sehingga guru dapat mengkolaborasikan individu
berbeda anak menjadi satu dalam kelompok untuk mengerjakan tugas bersama,
Metode bermain kolaboratif ini dipilih karena ketika
anak sedang mengalami maalah pengendalian emosi ini, anak akan berada pada
sebuah kelompok yang nantinya pada kelompok tersebut anak harus melakukan
kegiatan secara bersama-sama yang kegiatannya sudah dirancang oleh guru beserta
dengan aturan mainnya sehingga dapat memetik hasil akhir yang sama. Diharapkan
dalam bermain kolaboratif ini anak dapat mengkonstruksi pengetahuan dan sebuah
pengalaman individu melalui belajar dalam berinteraksi sosial dan kelompok.
Disitu anak akan bertukar pikiran,bertukar pendapat, anak saling menghargai,
anak akan beradu argumentasi dan anak dapat memecahkan masalah secara
bersamaan.
Dalam menerapkan bermain kolaboratif ini tidak
terlepas dari dunia anak-anak, yang nantinya anak dikemas oleh guru karena
ketika kegiatan misalkan dalam mewarnai gambar baju olahraga pada lembar
kegiatan anak diminta untuk mengerjakannya secar bersamaan yang pada akhirnya
warna dari baju itu bermcam-macam warna sehingga tingkat kreativitas anak akan
muncul dan invidu anak akan mudah dikontrol yang awalnya tingkat emosi anak
kurang terkendalikan.
Untuk hasil pembelajaran kolaboratif yang sudah
diterapka dapat dijabarkan sebagai berikut:
a.
Pada
kegiatan pembukaan menjelaskan tema, meskipun masih terdapat satu anak yang
masih berjalan-jalan kurang fokus terhadap penjelasan dari guru.
b.
Anak
yang tadinya berjalan-jalan kurang fokus terhadap penjelasan guru, kemudian
anak ini mengamati tugas dan memilih satu tugas dimana kelompok tersebut tidak
ramai dari teman-temannya. Selanjutnya dia mengerjakan tugas dengan duduk
tenang meskipun lama dalam mengambil keputusan tugas mana yang harus dikerjakan
terlebih dahulu.
c.
Guru
memberikan motivasi terhadap murid tersebut, kemudian dia mau bergabung dengan
temannya meskipun sering menoleh kekanan dan kekiri. Padhal teman-temannya
sedang fokus pada kegiatan.
d.
Hasil
karya anak tersebut kemudian diminta untuk ditunjukkan meskipun hasilnya kolase
gambar tidak rapi terlihat ketika anak menyobek-nyobek kertasnya terlalu besar
dia kurang sabar dan telaten. Sehingga anak merasa dihargai dari apa yang sudah
dilakukannya.
Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa dengan adanya
pembelajaran secara berkelompok baik langsung maupun secara individu akan
memunculakan konsep pemecahan masalah lebih mudah dilakukan ketika anak dalam kegiatan
yang melibatkan diskusi dengan temannya pada kelompok. Anak yang selalu
distimulasi dengan kegiatan bermain secara kelompok akan saling menumbuhkan
jiwa tolong menolong dan dapat memecahkan masalah secara komplek. Pada konsep
pembelajaran ini baik kelompok besar maupun kecil, informasi-informasi dapat
tersampaikan, ada pembimbing antar teman ketika bekerja dalam kelompok, dapat
memberikan evaluasi penilaian pada akhir pembelajaran dan motivasi yang didapat
anak dalam pembelaharan kolaboratif.
Anak usia dini ketika menerapkan bermain sebagai cara
belajar dan dilakukannya pemberian kegiatan yang menjadi tanggungjawab di kelompok
yang diselesaikan bersama akan membuat pengaruh besar terhadap perolehan
pengetahuan secara langsung sehingga akan memunculkan kesadaran anak dalam
tanggungjawabnya. Dalam kegiatan bermain kolaboratif ini ketika harus
berkomunikasi dengan teman satu kelompoknya, anak akan belajar menghargai,
mengendalikan dirinya karena dalam kelompok tersebut ada temannya yang perlu
menyelesaikan tugasnya juga. Selain itu pembelajaran kolaboratif juga
menghasilkan anak bisa menunggu giliran bermain, giliran mengungkapkan
pendapat, giliran menyelesaikan tugasnya, giliran dalam membereskan mainannya
dan membantu temannya yang belum selesai dalam menyelesaikan tugasnya serta
menjadikan anak untuk taat pada aturan
kesepakatan yang dibuat bersamaan pada awal. Dari pemaparan tersebut dapat
disimpulkan bahwa dengan adanya pembelajaran kolaboratif dapat membawa manfaat
perubahan.

BELUM DIMASUKAN SUMBERNYA
ReplyDelete